Manggarai, NTT | Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, ketika isu lingkungan dan krisis kepedulian sosial semakin terasa, Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Ignasius Loyola Rakas menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana namun bermakna: menanam pohon, sekaligus menanam nilai kehidupan.
Kegiatan penanaman pohon hias yang dilaksanakan di area kapela dan taman depan kapela ini bukan sekadar aktivitas fisik memperindah lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol gerakan iman kaum muda yang mulai menemukan bentuk nyatanya—iman yang tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi melalui tindakan konkret.
OMK Stasi Ignasius Loyola Rakas yang berada di bawah naungan OMK Paroki Kristus Raja Pagal, menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari gerakan membangun kesadaran bersama akan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kehidupan menggereja sekaligus dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat, khususnya isu lingkungan hidup.
Sejak pagi hari, suasana di sekitar kapela tampak hidup dan penuh energi. Kaum muda dengan penuh semangat bergotong royong—menggali tanah, menanam pohon, menata taman, hingga membersihkan area sekitar. Tidak ada sekat antara OMK, umat, maupun para guru. Semua larut dalam satu semangat: membangun rumah Tuhan yang lebih asri sekaligus mempererat tali persaudaraan.
Kehadiran Ketua Stasi Rakas, Bernadus Ncuang, S.Hut, semakin menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia terlibat langsung di lapangan, bekerja bersama umat dan OMK, memberikan teladan nyata tentang arti kepemimpinan yang melayani.
“Menanam pohon bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga soal membangun iman. Kita diajak untuk merawat ciptaan Tuhan sebagai bagian dari tanggung jawab iman kita. Dari sini kita belajar bahwa iman harus bertumbuh, berakar, dan menghasilkan buah dalam kehidupan nyata,” ujarnya, Selasa (24/03/2026).
Ia juga menekankan bahwa gerakan seperti ini harus terus dilanjutkan dan tidak berhenti pada satu momentum saja. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu dijadikan budaya bersama dalam kehidupan menggereja, terutama bagi kaum muda sebagai generasi penerus.
Menjelang perayaan Paskah, kegiatan ini memiliki makna yang semakin dalam. Tidak hanya sebagai persiapan fisik dalam memperindah lingkungan kapela, tetapi juga sebagai simbol pembaruan diri dan pertumbuhan iman umat. Dalam kebersamaan yang terbangun, tersirat harapan akan persatuan yang semakin kokoh di antara OMK dan seluruh umat.
Sementara itu, Ketua OMK Stasi Ignasius Loyola Rakas yang baru terpilih, Bonifasius Halim, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan titik awal dari gerakan yang lebih besar.
“Kami ingin OMK tidak hanya aktif dalam kegiatan internal gereja, tetapi juga hadir sebagai kekuatan sosial di tengah masyarakat. Penanaman pohon ini adalah simbol komitmen kami untuk tumbuh bersama, melayani dengan hati, dan membawa perubahan nyata,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa ke depan, OMK akan terus menginisiasi berbagai kegiatan yang berdampak luas, seperti aksi sosial, edukasi lingkungan, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat. Baginya, iman harus hadir dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan para guru dalam kegiatan ini turut memberikan dimensi edukatif yang kuat. Mereka tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga berperan aktif dalam membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Kolaborasi antara OMK, umat, dan para pendidik ini menjadi cerminan nyata dari sinergi yang positif dalam membangun komunitas yang berdaya.
Dampak dari kegiatan ini diyakini tidak akan berhenti pada hari pelaksanaan. Pohon-pohon yang ditanam akan terus tumbuh, memberikan kesejukan, memperindah lingkungan, serta menjadi simbol hidup dari semangat kebersamaan yang telah ditanam hari itu.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
Gerakan ini juga membawa pesan kuat bahwa menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah panggilan bersama—panggilan iman, panggilan moral, dan panggilan kemanusiaan.
Dalam konteks ini, OMK Stasi Ignasius Loyola Rakas telah menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan zaman.
Di tengah arus globalisasi dan berbagai dinamika sosial, kehadiran OMK sebagai agen perubahan menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya generasi penerus, tetapi juga pelaku utama dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Dari tanah yang digali, dari pohon yang ditanam, dan dari kebersamaan yang terjalin, lahirlah sebuah harapan baru: bahwa masa depan yang hijau, beriman, dan penuh persaudaraan dapat diwujudkan—dimulai dari langkah sederhana hari ini.
Editor : Nobertus Patut






