Penyakit Terberat di Dunia

Dalam kehidupan, setiap manusia menghadapi berbagai tantangan bathin yang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Salah satu hal yang paling berat bagi seseorang adalah penyakit bathin yang tidak terlihat secara fisik, namun memiliki dampak besar terhadap kehidupan sosial dan spiritual.
Penyakit itu adalah tamak, sebuah sifat yang membuat seseorang tidak pernah puas dan selalu menginginkan lebih dari yang ia miliki.

“Orang itu kalau mentalnya memberi, berarti selesai dengan dirinya. Tapi kalau tidak bermental memberi, pasti tamak,”

Tamak bukan sekadar sikap serakah terhadap harta, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Seseorang yang memiliki sifat tamak cenderung menghakimi orang lain berdasarkan keinginannya yang tidak terpenuhi.
Dalam Kitab Hikam diterangkan bahwa penyakit terberat itu tamak. Kenapa? Karena orang kikir itu gak ada di Kitab Hikam. Yang ada itu tamak.

Sebagai contoh, bagaimana seseorang bisa dengan mudah menuduh orang lain pelit hanya karena keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian seseorang sering kali dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya.

Dalam kehidupan sosial, khususnya dalam hubungan antarindividu. Menurutnya, banyak orang yang menilai seseorang sombong hanya karena keinginannya untuk dekat atau berinteraksi tidak terpenuhi.
Orang-orang akan lebih sibuk menghakimi orang lain berdasarkan keinginan pribadi ketimbang bersikap objektif dan menerima kenyataan.

Penyakit tamak tidak hanya mengganggu ketenangan bathin seseorang, tetapi juga berpotensi merusak hubungan sosial. Ketidakpuasan yang terus-menerus akan membuat seseorang sulit bersyukur dan cenderung menyalahkan orang lain atas keadaan yang ia alami.

Dalam ajaran Islam, sifat tamak dianggap sebagai penghalang utama bagi seseorang untuk mencapai ketenangan jiwa. Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap qana’ah atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.
Orang yang bermental memberi akan lebih mudah menerima keadaan dan tidak mudah terpengaruh oleh ketidakpuasan duniawi. Sebab, mereka telah mencapai ketenangan batin yang tidak bergantung pada keinginan materiil.

“Kalau sudah selesai dengan dirinya sendiri, orang gak akan gampang menghakimi. Sebab, dia sudah paham bahwa hidup bukan tentang memenuhi keinginan pribadi,”
Tidak semua orang mampu mencapai tahap tersebut. Banyak yang masih terjebak dalam lingkaran tamak, merasa tidak puas dengan kehidupannya, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

“Kita harus belajar dari orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka yang dermawan bukan karena berlebih, tapi karena hatinya luas. Itulah kuncinya,”
Dalm umat Islam kita di ajarkan untuk lebih banyak berintrospeksi dan memahami akar dari setiap prasangka yang muncul dalam hati. Dengan begitu, seseorang akan lebih mampu mengendalikan diri dan menjauhi sifat tamak yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Kalau kita paham bahwa tamak itu sumber masalah, kita akan lebih berhati-hati dalam menilai sesuatu. Jangan sampai hanya karena keinginan kita gak kesampaian, kita langsung menghakimi orang lain,”

Sifat tamak bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik dalam urusan finansial, sosial, hingga hubungan antarindividu. Oleh karena itu, menurutnya, kesadaran akan bahaya tamak harus ditanamkan sejak dini agar seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih damai dan penuh rasa syukur.

“Kita harus mulai dari diri sendiri. Kalau ingin hidup bahagia, hilangkan sifat tamak. Karena itulah penyakit terberat yang bisa merusak segalanya,”.

Gus Hisa
PPIQ Darul Hidayah
(Yatim Piatu & Dhuafa)
Jl Bareng Kartini 3/G
Kel Kauman Kota Malang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *